Maulana Diharapkan Berikan Warna Lebih Intelektual Kepada KNPI

SUARA PEMBARUAN: Terpilihnya Maulana Isman sebagai Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 1996-1999 diharapkan bisa membawa organisasi itu agar lebih berkualitas dan tidak tergantung pada kelompok tertentu. Maulana Isman hendaknya juga mampu membawa KNPI secara dinamis menjalankan perannya dalam dimensi intelektual dan pragmatis.

Hal itu antara lain pendapat peserta Kongres VIII KNPI yang dihubungi Pembaruan berkaitan dengan terpilihnya Maulana Isman sebagai Ketua Umum DPP KNPI Selasa dinihari di Jakarta.

Ketua Umum PB PMII, Muhaimin Iskandar mengatakan, sebagai wadah berhimpun, KNPI tidak boleh didominasi kelompok-kelompok tertentu.

Kemenangan Maulana berarti juga janji dia yang akan ditagih untuk memberi ruang yang lebih bagi peran mahasiswa di KNPI. Ia berpendapat, sudah saatnya organisasi kemasyarakatan mahasiswa (OKM) mendapat peran lebih besar dibanding yang sekarang sudah berjalan.

Ia berharap Maulana Isman bisa memberi warna baru yang lebih intelektual di KNPI dan lebih seimbang menjalankan organisasi pada dimensi pragmatisme dan intelektual. Sudah saatnya KNPI tidak hanya memberi peran pada pemuda tetapi bisa berperan sebagai pemuda itu sendiri.

Kemauan untuk berdialog dan mendengarkan kritik dari luar, ujar Muhaimin, merupakan keunggulan Maulana yang diharapkan bisa membawa KNPI ke arah yang lebih baik.

Nasionalis

Pendapat serupa disampaikan Ketua DPD KNPI Jakarta, Adhyaksa, bahwa Maulana seorang nasionalis yang demokratis.

Proses demokratisasi di tubuh KNPI diharapkan bisa lebih berkembang dalam koridor demokrasi Pancasila bersama Maulana, ujar Adhyaksa yang sebelumnya juga mencalonkan diri sebagai Ketua Umum KNPI tetapi harus puas mengantungi enam suara pada putaran kedua.

Maulana yang juga mantan Ketua DPD I Jakarta tidak akan sulit menyesuaikan diri dan membawa KNPI menuju pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan profesionalisme, katanya.

Sebagai pemimpin, Maulana punya karakter dan berani mengambil resiko, sehingga KNPI akan mampu berubah dalam dinamikanya, ujar Ketua DPD KNPI Jawa Timur, gatot sudjito. Sosok Maulana yang memiliki daya juang tinggi, ujarnya, diharapkan bisa terbawa dengan baik di KNPI.

Dikatakan, tidak hanya sekadar mengerti pemuda tetapi ia harus menghayati dan menjalankan perannya sebagai pemuda. Meskipun demikian, keberhasilannya juga akan ditentukan oleh tim yang akan dibentuknya.

Menyinggung tentang proses pemilihan yang berlangsung menegangkan, gatot berpendapat, meskipun tegang tetapi proses tersebut menunjukkan keinginan terjadinya perubahan di tubuh KNPI.

Sedang Adhyaksa berpendapat, kemenangan Maulana Isman menunjukkan meskipun ada kekuatan ekstra agar seorang kandidat da-pat terpilih tetapi semuanya tetap ditentukan hati nurani peserta itu sendiri.

Ia merasakan terdapat tarik-menarik dalam pencalonan ini tetapi semuanya bisa dikembalikan kepada pemilik suara yang juga memiliki hati nurani.

Adhyaksa juga menyatakan keheranannya dengan masuknya Taufik Hidayat yang mengantongi 19 suara pada putaran pertama padahal namanya baru muncul dua hari sebelum pemilihan.

Ini menunjukkan penggalangan yang selama ini dilakukan tidak hanya cukup visi dan wawasan tetapi juga pendekatan vertikal dan horisontal yang turut menentukan keberhasilan kandidat, tandasnya.

Bersaing

Maulana Isman (38), dari Generasi Muda Kosgoro, terpilih menjadi Ketua Umum DPP KNPI periode 1996-1999 dalam kongres VIII Selasa dini hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

Dalam pemilihan tersebut, Maulana bersaing dengan tiga kandidat lainnya, Djoko Purwongemboro, Kaharudin Syah, dan Taufik Hidayat. Namun, Maulana yang di awal kongres sebenarnya tidak terlalu dijagokan, memperoleh suara terbanyak, 28 suara mengalahkan pesaingnya, Taufik Hidayat (HMI) yang memperoleh 25 suara. Sedangkan Djoko Purwongemboro (PPM) yang diunggulkan sejak awal memperoleh 12 suara. Kaharudin Syah (PP) mengumpulkan 2 suara.

Sebelum memasuki babak pemilihan ketua umum, tujuh orang mencalonkan diri sebagai kandidat, Maulana Isman, Kaharudin Syah, Djoko Purwongemboro, Adhyaksa, gatot sudjito, HM Ramli Yusuf, dan Taufik Hidayat. Babak mencalonkan diri ini untuk memenuhi persyaratan pencalonan, yang salah satunya dinyatakan seorang calon harus mendapat dukungan 10 suara.

Dari hasil babak pencalonan ini, Taufik masih unggul dengan 19 suara, sedangkan Maulana dan Djoko masing-masing menda-pat dukungan 14 dan Kaharudin Syah 11. Dengan begitu, tiga calon lainnya, yang mendapat dukungan kurang dari 10 suara, dinyatakan tidak bisa melanjut ke babak pemilihan ketua umum.

Setelah ketua umum terpilih disahkan, dibentuklah formatur yang akan melaksanakan penyusunan pengurus DPP KNPI 1996-1999. Formatur beranggotakan sembilan orang. Komposisinya, tiga anggota dari unsur Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), ma-sing-masing AMII, GM FKPPI, Fokusmaker, tiga anggota dari unsur DPD KNPI Tingkat I, masing-masing DKI Jakarta, Sumatra Barat, Irian Jaya, seorang dari unsur DPP demisio- ner, dan seorang dari unsur Majelis Pemuda Indonesia (MPI). Sisanya, ketua umum terpi-lih yang sekaligus menjadi Ketua Tim Formatur.

Sesuai Anggaran Rumah Tangga, yang dalam kongres telah disahkan penyempurnaannya, dalam susunan pengurus DPP KNPI 1996-1999 ketua umum terpilih akan dibantu 69 anggota pengurus.

Pembicaraan menarik setelah ketua umum terpilih, figur sekretaris jenderal (Sekjen). Sejumlah nama disebut-sebut sebagai calon kuat untuk menduduki jabatan Sekjen, di antaranya Kaharudin Syah, dan Ahmad Astra Ramli, Ketua DPD KNPI Sumatra Selatan.

Direncanakan susunan pengurus DPP KNPI 1996-1999 akan diumumkan dalam sidang pleno yang merupakan mata acara terakhir kongres, sebelum secara resmi ditutup Selasa malam ini.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai figur Sekjen DPP KNPI periode mendatang, menurut Ketua Umum Maulana, harus benar-benar orang yang dapat mengerti, dalam arti bukan mengerti jiwanya atau hatinya, tetapi mengerti makna pemikiran-pemikiran yang disampaikan, atau tema yang dicanangkannya dalam mekanisme kerjanya di KNPI.

“Sekjen juga harus punya pemahaman dan keahlian di dalam administrasi, apakah itu administrasi yang sifatnya hightech atau mediumtech karena ini merupakan tantangan bagi KNPI. Kita akan punya program-program yang sifatnya mengelola (manage) informasi, komunikasi dan keanggotaan, yang mana akan terjalin jaringannya dari DPP KNPI, lembaga OKP-OKP dan lembaga DPP KNPI. (*)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: