Sidang Paripurna DPRD Surabaya Nyaris Ricuh

TEMPO INTERAKTIF: Kericuhan nyaris mewarnai Sidang Paripurna Khusus Lanjutan yang digelar DPRD Kota Surabaya, berkaitan kelangsungan pemerintahan Walikota Sunarto Sumoprawiro, Selasa (15/1).

Ini terjadi ketika sidang dibuka, juga ketika penentuan mekanisme pemungutan suara. Sejak awal, Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) –yang mencalonkan Sunarto saat pemilihan walikota awal 1999— menolak agenda sidang. Ketua FKB Muhammad Sukry melayangkan interupsi. “Sidang ini tidak sah karena mau memberhentikan walikota yang sehat dan alasan sakit,” teriak Sukry.

Ia berdalih Sunarto telah pulih setelah tiga bulan dirawat di Australia. Terbukti, kemarin pensiunan kolonel pasukan baret merah itu datang ke Surabaya dalam acara coffee morning dengan DPRD Surabaya. Padahal, sejumlah fraksi besar terutama PDI Perjuangan menjadikan alasan sakitnya Sunarto itu sebagai amunisi telak untuk menurunkan dari kursi walikota. Debat panjang dan keras terjadi. Akhirnya, Ketua DPRD Surabaya Moh. Basuki mengembalikan sidang pada agenda yakni pemberhentian Sunarto. Sidang pun jalan lagi.

Giliran Ketua Fraksi PDIP Armuji interupsi. Ia meminta Basuki diganti sebagai pimpinan sidang. Menurut tata tertib, palu persidangan bisa dipegang Wakil Ketua DPRD. “Kami tidak mau sidang dipimpin sosok yang arogan dan otoriter,” tandas Armuji. Permintaan itu ditolak Basuki, karena dirinya tidak berhalangan memimpin sidang.

Basuki menyodorkan, apakah pemungutan suara dilakukan tertutup atau terbuka? Sejumlah anggota FKB maju dan merebut mikrofon di meja pimpinan sidang. Mereka menuntut voting tertutup. Tindakan itu menyulut emosi Fraksi PDIP yang bersikeras voting terbuka.

Gatot Sudjito dari Fraksi Gabungan dan anggota Fraksi TNI-Polri I Gde Tamba, turun tangan. Keduanya mengusulkan pemungutan suara untuk menentukan mekanisme voting. Usul ini disetujui. Mayoritas anggota dewan menginginkan voting terbuka.

Voting terbuka ini dimenangkan barisan yang menginginkan kekuasaan Sunarto berakhir. Wakil Walikota Bambang Dwi Hartono tinggal menunggu waktu untuk naik pangkat. Kader PDI Perjuangan itu menggelar jumpa pers. Ia berjanji pada publik Surabaya, “Membersihkan sarang-sarang korupsi, kolusi dan nepotisme di pemerintahan Surabaya, termasuk jajaran dinas.” Pukul 15.00 wib, Sunarto meluncur ke Bandara Juanda. Ia terbang ke Australia untuk melanjutkan perawatan medis. (*)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: