Psikografi Memandang Calon Pemimpin Surabaya

WARTA.UNAIR.AC.ID: Psikologi, Kampus B. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga bekerjasama dengan KOMPAS Jawa Timur, menyelenggarakan seminar yang bertema Rencana ke Depan Dalam Membangun Kota Surabaya : Dilihat dari Sudut Pandang Psikologi.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja keras BEM fakultas Psikologi UNAIR. Pada hari Rabu (22/6) di Ruang Abraham Maslow lantai III, Psikologi coba memandang calon pemimpin Surabaya. Pandangan ini didasarkan pada hasil studi Kualitatif terhadap Psikografi calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya.

Sebagai pembicara hadir Budi Setiawan MS., Psi dan Dr. Fendy suhariadi MT. Begitu juga dengan pakar Sosiologi Unair Prof Dr Hotman Siahaan. Dalam seminar kali ini, panitia menghadirkan Moderator dari media elektronik. Yakni Mas Yoyong Burhanudin dari radio Suara Surabaya. Ditambah lagi perwakilan dari KOMPAS, Pepih Nugraha, selaku Wakil Biro KOMPAS Jatim. Adalah hal yang menarik jika kita dapat ikuti perkembangan pemilihan secara langsung yang melibatkan masyarakat sebagai “wasit”nya. Mereka jadi pengadil dalam memandang proses demokrasi di Indonesia pada umumnya, dan Surabaya pada khususnya.

Akhir tahun ini, hampir di seluruh kota dan daerah akan meramaikan datangnya PEMILU secara langsung. Sejak tahun 2004, pesta demokrasi dimulai melalui pemilihan Badan Eksekutif yang dilanjutkan dengan pemilihan Badan Legislatif. Seakan mendapat dorongan dari masyarakat untuk ikut serta dalam memilih pasangan calon. Mereka dipilih untuk menjadi pemimpin di masing-masing Wilayahnya. Dalam diskusi kemarin, ada pemandangan yang cukup menarik yang dapat kita ambil. selama ini hampir belum ada diskusi yang melibatkan metode dan pendekatan Psikologi dalam memandang calon pemimpin di Surabaya.

Bagaimana sesungguhnya gambaran psikografi seorang calon Walikota ? Ini adalah suatu pertanyaan yang menarik. Secara praktis, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan. Tentu saja, bagi warga kota dalam memilih pemimpin masa depan mereka. Diskusi ini memandang bahwa para pemimpin untuk turut dalam mengejar dan mengangkat ketertingglan masyarakatnya. “Jangan jadikan seperti ‘gombal mukiyo’,” seperti yang dilontarkan Prof. Hotman Siahaan selaku nara sumber.

Lain halnya dengan Budi Setiawan, ia memandang hal ini sebagai proses sosialisasi yang mengedepankan dan melihat kondisi secara menyeluruh. Artinya, pasangan calon tersebut harusnya bisa melihat ini sebagai sebuah nilai praktis dan tidak melihatnya sebagai pencarian “jati diri”. Semata-mata untuk mendapatkan perhatian di mata masyarakat.

Pemilihan Kepala daerah secara langsung membawa kompleksitas tersendiri bagi warga kota Surabaya. Diantara optimisme yang berkembang, terdapat sejumlah kekhawatiran. Antara lain, terjadinya permainan politik di kalangan elit partai politik. Mengingat, partai adalah satu-satunya jalur pencalonan Walikota. Adanya politik media, membangun opini terhadap ide atau calon tertentu secara masif. Untuk kemudian menuju terpengaruhnya warga kota akan janji politik tanpa mempertimbangkan bagaimana janji tersebut akan diwujudkan.

Kondisi ini, melatarbelakangi berbagai pihak untuk melihat secara nyata dalam memandang pemilihan secara langsung. Sebagai praktik PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah). Oleh karena itu, diskusi yang menyangkut metode dalam penelitian ini, tampil sebagai salah satu pengantar. Guna “membukakan” para akademisi, elit, dan mahasiswa untuk lebih bisa melihat secara langsung praktik dan prosesnya. Tentu saja jika dilihat dari sudut pandang psikologi psikografi, terlebih bagi kemanfaatan masyarakat Kota Surabaya untuk lima tahun ke depan.

Perlu diketahui, penelitian psikografi menelurkan hasil menarik dalam melihat fakta latar dan belakang dari masing-masing calon. Tertulis dalam hasil laporan, Erlangga Satriagung : “Wirausahawan yang pandai mencuri perhatian”, A.H Thony : “Anak desa yang Romantis”, Bambang DH: “Sang pelaksana peran”, Arif Affandi: “Si kancil yang gesit”, Gatot Sudjito: “The Real politician”, Benjamin Hilly: “Sang penasehat yang mengalir bagai air”, Alisjahbana: “Rasionalitas papan catur”, Wahyudin Husein: “Pembuktian diri seorang santri”.

Idiom yang melekat di jajaran calon para Pemimpin tersebut dapat dijadikan bukti nyata. Yang terlihat dari masing-masing kapasitasnya dalam praktik dan keterlibatannya untuk menjadikan kota Surabaya menjadi “banyak Pahlawan”. “Tanpa berebut untuk mencari kursi dan kepopuleran,” sambung Yoyong Burhanudin, sekaligus menutup acara diskusi.


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: