Di Jatim, Semua Incumbent Menang

LANTAS.METRO.POLRI.GO.ID: Perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada) kemarin digelar di 82 daerah di seluruh tanah air. Termasuk dua pemilihan tingkat provinsi yang berlangsung di Sumatera Barat dan Bengkulu.

Hampir semua provinsi menggelar pilkada di kabupaten atau kota. Provinsi Sulawesi Selatan menjadi provinsi paling banyak menggelar coblosan. Sepuluh kabupaten/kota melakukan pesta demokrasi di provinsi ini.

Tidak semua pesta demokrasi itu berjalan mulus. Di beberapa daerah, terjadi insiden. Bahkan, sempat muncul kericuhan. Seperti yang terjadi di Kota Binjai, Sumatera Utara, pilkada berlangsung rusuh. Sedangkan di Gowa, Sulsel, di beberapa TPS, sempat juga muncul kerusuhan.

Di Sibolga, Sumut, pencoblosan terpaksa ditunda. KPUD setempat memutuskan menunda pilkada karena data pemilih tidak lengkap.

Dalam kasus kericuhan di Binjai, tiga pasangan calon wali kota-wakil wali kota, yakni Herman Manan-Bahman Nasution, Abdul Gani Sitepu-Rustiadi Adi Trisno, dan H.T. Indra Bungsu-Slamet Priyoto, sepakat menolak pilkada yang dilaksanakan kemarin.

Wujud penolakan itu, ribuan pendukung ketiga pasangan calon tersebut berunjuk rasa di Kantor KPUD dan Pemko Binjai. Minggu malam, Kantor KPUD Binjai di Jalan Gatot Subroto terlebih dahulu dilempari massa. Dalam insiden itu, kaca depan ruangan kerja ketua KPUD Binjai dan ruang depan kantor tersebut hancur lebur.

Tanda-tanda bahwa pilkada Binjai yang dilaksanakan kemarin bakal kisruh mulai kelihatan sejak pukul 7.30 WIB. Sejumlah petugas Komite Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS mendapat teror dan intimidasi dari orang tak dikenal. Seperti yang terjadi di TPS I Kelurahan Tangsi, Kecamatan Binjai Kota, Ismail, 34, salah seorang petugas KPPS di TPS tersebut, diintimidasi dengan acungan senjata tajam oleh seorang pemuda yang mengendarai sepeda motor. “Kata orang itu tadi, kenapa kalian hadir di TPS. Pilkada hari ini kan nggak jadi dilaksanakan,” ujar Ismail menirukan perkataan orang yang mengintimidasinya itu.

Setelah mengintimidasi petugas KPPS di TPS, lanjut Ismail, pemuda itu berlalu. Oleh ketua KPPS setempat, kasus tersebut dilaporkan ke Polsekta Binjai Kota yang hanya berjarak sekitar 60 meter dari lokasi TPS I.

Sementara itu, selebaran Surat Keputusan KPU Kota Binjai nomor 27-1102/KPU.BJ/VI/2005 tentang penundaan pilkada Binjai menjadi Senin 4 Juli 2005 telah menyebar ke seluruh TPS dan warga setempat. SK tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua KPUD setempat, H Achjar A. Ridwan. Akibatnya, banyak warga setempat, termasuk petugas KPPS, bingung. Apalagi sekitar pukul 9.00 WIB beredar SK KPU Kota Binjai nomor 287-1103/BA/KPU.BJ/VI/2005 yang isinya bertentangan dengan SK sebelumnya. Yakni, mengukuhkan 27 Juni 2005 sebagai tanggal pelaksanaan pilkada di daerah itu. “Bingung kami dibuatnya. Entah mana yang betul,” ungkap seorang petugas KPPS.

Surat keputusan itu pula yang mengundang kontroversi di kalangan tiga pasangan calon wali kota Binjai. Sekitar pukul 09.15WIB, dua pasang calon wali kota Binjai menggelar pertemuan di Café Malioboro, Binjai. Dalam pertemuan yang dihadiri ratusan pendukung masing-masing itu, kedua calon wali kota Kota Rambutan tersebut mengeluarkan statemen yang menyatakan tetap menolak pelaksanaan pilkada yang dilaksanakan kemarin.

Setelah itu, keduanya meluncur ke kediaman calon wali kota Binjai lainnya, yakni Herman Manan, di Jalan Satria, Binjai. Ketiga calon tersebut menggelar pertemuan tertutup.

Pencoblosan di Binjai juga diwarnai bentrokan dua kubu massa. Bentrokan terjadi di Lapangan Merdeka, Binjai. Saat itu, Gubsu H.T. Rizal Nurdin sedang menggelar pertemuan dengan muspida dan keempat calon wali kota Binjai.

Aksi saling lempar batu dan panah mengakibatkan seorang pemuda bernama Rudi, 25, penduduk Bandar Sinembah, terluka di bagian dada kirinya akibat terkena panah. “Saat itu aku lagi berdiri, tiba-tiba dadaku kena panah,” ungkapnya.

Kebetulan, saat itu di halaman Kantor Wali Kota Binjai hadir Kepala Badan Pengelola RSU Dr Djoelham Binjai Dr H.T. Murad El Fuad. Oleh dokter spesialis penyakit anak itu, korban di bawa ke rumah sakit milik Pemko Binjai. Aksi lempar batu tersebut dapat diredam petugas. Dua kubu massa yang sudah tersulut emosinya dapat dipisah.

Selain Binjai, pilkada di Kota Sibolga juga diundur hingga 30 Juni mendatang. Itu terpaksa dilakukan KPUD setempat karena ketidaksiapan data pemilih. “Karena adanya komplain dari masyarakat yang hingga sekarang belum terdaftar sebagai pemilih dan juga dilihat dari berbagai aspek, maka KPUD Sibolga dan muspida mengeluarkan keputusan untuk menunda penyelenggaraan pilkada hingga 30 Juni mendatang,” ujar Rizal Nurdin, usai mencoblos di TPS 01, Jalan Urip, Kelurahan Angrung, Kecamatan Medan Polonia, Senin kemarin.

Penundaan tersebut dilakukan untuk mematangkan jumlah daftar pemilih di Kota Sibolga. Berdasar informasi dari Desk Pilkada Prov Sumut, jumlah penduduk di kota Sibolga ini 78.856, sedangkan pemilih Sibolga hanya 52.932. Namun, kertas suara yang tercetak baru sekitar 4.969 suara. Belum lagi masih banyak pemilih yang belum terdaftar.

“Jumlah daftar pemilih di Sibolga ini bermasalah karena sebelumnya masyarakat yang memilih sewaktu pemilihan legislatif pada saat dibuka daftar untuk memilih pilkada, ada yang tidak mau ikut. Mereka lebih memilih ikut pemilihan nanti di Tapteng. Tiba-tiba sekarang balik ingin kembali mendaftar dan memilih ke Sibolga.Iinilah yang terjadi sehingga KPUD dan aparat terkait harus optimal menetapkan daftar jumlah pemilih di Sibolga,” papar Gubsu.

Jatim, Incumbent Unggul

Di Jatim, digelar tiga pilkada. Yakni di Surabaya, Gresik, dan Kabupaten Kediri. Di ketiga wilayah itu, semua diikuti incumbent. Suara ketiga incumbent tersebut dalam penghitungan suara sementara masih unggul. Bambang D.H.-Arif unggul di Surabaya, Robbach memimpin di Gresik, dan Sutrisno menang di Kediri.

Sementara itu, Duet Bambang D.H.-Arif Afandi dipastikan bakal memimpin Surabaya lima tahun mendatang. Meski penghitungan suara pemilihan wali kota (pilwali) Surabaya yang digelar kemarin belum 100 persen selesai, hasil penghitungan KPU maupun quick count (penghitungan cepat) menempatkan pasangan yang dicalonkan PDIP itu menang telak.

Sebab, dari total suara yang sudah masuk ke sistem informasi (SI) KPU Surabaya hingga pukul 22.30 tadi malam, pasangan tersebut memperoleh 51,39 persen suara. Berikutnya disusul pasangan Alisjahbana-Wahyudin Husein (PKB) dengan 21,01 persen suara; Erlangga Satriagung-A.H. Thony (Partai Demokrat-PAN) 18,51 persen suara; serta Gatot Sudjito-Benyamin Hilly (Partai Golkar-Partai Damai Sejahtera) 9,10 persen suara.

Seperti Bambang D.H. di Surabaya, incumbent yang juga memenangi pilkada terjadi di Gresik. Cabup Robbach Ma’sum yang berpasangan dengan Sastro Suwito sampai tadi malam pukul 19.30 sudah mengantongi 170.112 suara atau sekitar 44,60 persen suara.

Sedangkan cabup-cawabup Sambari Halim Radianto-M. Nasikh memperoleh 135.684 suara (35,58 persen) serta Gunawan-Ach. Qusyairi Sa dan “hanya” 30.276 suara (7,94 persen). Dan, Mujitabah-Samwil mendapatkan 45.306 suara.

Seperti pada pemilu legislatif lalu, Robbach-Soewito (Rowi) unggul di kantong-kantong suara PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), seperti Kecamatan Manyar. (*)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: