Perlu Optimalisasi Kinerja BUMD

HARIAN BANGSA: Meski memiliki aset besar, pendapatan yang disetor ke kas daerah oleh BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) ternyata masih kecil. Masalah ini sempat mencuat saat DPRD Jatim membahas RAPBD 2008 pekan lalu. DPRD cenderung menyorot kinerja BUMD yang tampak belum maksimal.

“Kami sangat kecewa karena meski beraset sangat besar, ternyata kontribusi ke pendapatan daerah sangat kecil,” kata anggota komisi C DPRD Jatim, Ahmad Sufiyaji.

Dari hasil rapat komisi dengan BUMD milik pemprov, hanya ditargetkan pendapatan sebesar Rp 11 miliar. Padahal, dewan berharap ada support dari BUMD. Hal ini jelas mengecewakan apalagi jika dibandingkan dengan target PAD yang dibebankan ke rumah sakit milik pemprov.

Dia mencontohkan RS Syaiful Anwar beraset Rp 400 miliar bisa mendapatkan penerimaan pendapatan sebesar Rp 46 miliar. RS Menur saja bisa menyetor pendapatan sebesar Rp 2 miliar. Jika dibandingkan dengan PT PWU yang beraset Rp 800 miliar dan menyetor PAD hanya Rp 2 miliar, hal ini tentu tak seimbang. “Para dirut rumah sakit ini layak disebut sebagai pahlawan PAD karena setorannya sangat tinggi,” kata Sudono Syueb, anggota komisi C lainnya.

Pemprov memiliki 11 BUMD berstatus Perseroan Teratas (PT) yaitu PT Bank Jatim, PT BPR Jatim, PT SIER (Persero), PT ASKRIDA, PT PWU Jatim. BUMD yang lain adalah PT Jatim Krida Utama (JKU), PT Jatim Investment Management (JIM), PT Jatim Marga Utama, PT Jatim Ghra Utama, PT Petrogas Jatim Utama (PJU) dan PD Air Bersih Propinsi Jatim.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim, Gatot Sudjito menegaskan pihaknya akan mendesak agar dilakukan optimalisasi target pendapatan daerah. Dewan memberikan dua opsi yaitu perbaikan kinerja agar bisa menyetor PAD lebih besar. “Kalau tidak bisa diperbaiki, bubarkan saja BUMD itu,” kata politisi Golkar tersebut.


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: