Warga NU Tidak Boleh Pecah Hanya Karena Pilkada

LACAK.INFO: Maraknya tokoh NU masuk bursa Pilgub. bahkan bersaing sesamanya sulit dihindari. Demikian pula, kekhawatiran akan pecahnya umat NU karena kasus Pilkada adalah hal yang wajar. Namun, kecemasan itu kiranya tidak perlu ada dan memang tidak boleh terjadi, karena akan meresahkan. Maka untuk menghindarinya perlu solusi bersama, antar konponen NU struktural dan politisi yang kader NU. “Memang ini perlu waktu panjang”, kata wakil ketua Partai Golkar Jatim Gatot Sudjito menanggapi kebenaran sinyalemen PBNU baru-baru ini.

Sebagaimana diungkapkan ketua umum PBNU dan tokoh NU lainya seperti Masdar F Mas’udi baru-baru ini. Realitas politik di daerah ternyata membawa dampak negatif bagi NU. Karena banyaknya tokoh NU yang berebut jadi calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah, menyebabkan perpecahan di arus bawah. Hampir pada setiap pilkada, sedikitnya ada dua tokoh NU yang ikut berlaga.

Menanggapi realitas politik semacam itu, Gatot yang juga ketua Ketua DPD Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jatim membenarkannya. Bahkan ia menilai sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, wajar kalau massa NU jadi rebutan parpol. “Ada semacam titik temu kepentingan antara parpol dan besarnya massa NU serta tingginya syahwat politik yang menghinggapi tokoh-tokoh NU di daerah” ujarnya.

Bertemunya dua kepentingan tersebut, lanjut Gatot, tidak hanya monopoli terjadi pada kader NU yang aktif di parpol. Tapi, sudah jadi realitas politik yang sedang terjadi pada kader NU non parpol. Maka, jangan heran kalau dalam setiap pilkada, ketua NU setempat jadi rebutan parpol untuk diusung jadi pendamping calon kepala daerah yang sudah disiapkan parpol.

Ketika ditanya apakah para politisi punya solusi untuk mencegah perpecahan umat NU akibat pilkada, dengan tegas Gatot menyatakan perlu ada solusi bersama antar komponen. Terutama komponen NU struktural dan politisi yang kader NU. Dia juga mengakui bahwa upaya itu perlu proses panjang, padahal dinamika politik di daerah dengan digelarnya pilkada terus berlangsung tanpa bisa dihindari.

Dalam pandangan Gatot, sebenarnya kalau mau bereksperimen bisa dicoba di Pilgub Jatim 2008. Setidaknya ada tiga cagub/cawagub yang berasal dari tokoh NU. Saat ini ada sinyal kuat ketua PWNU Jatim bakal tampil jadi Cawagub. “Supaya suara warga NU tidak pecah, berikan saja dukungan kompak kepada KH Ali Maschan. Jika betul langkah politik itu bisa mencegah perpecahan warga NU, kenapa tidak dicoba dilakukan” tegasnya.

Tentang munculnya wacana pilkada langsung dipilih rakyat harus ditinjau ulang, Gatot justru menilai bahwa pilkada lansung sudah sesuai dengan tuntutan rakyat setelah reformasi. Pilkada langsung merupakan penyempurnaan proses demokrasi karena pilpresnya juga dipilih langsung oleh rakyat. Bahkan, di desa-desa sejak lama ada tradisi demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat. “Tradisi pilkades di desa-desa di negeri ini merupakan tradisi politik secara turun menurun. Plikades itulah guru politik bangsa dalam proses demokrasi pemilihan seorang pemimpin,” ulas Gatot.(*)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: