Andaikata PPP Dukung Cagub Soenarjo

Artikel

Oleh Gatot Sudjito

PEKAN ini telah terjadi perkembangan cukup signifikan mengenai peta politik seputar pilgub Jatim 2008. Hal itu ditandai adanya kepastian cagub PDIP memilih pasangannya di posisi cawagub, yakni kader Golkar yang menjabat ketua Kosgoro 1957 Jatim Ridwan Hisjam. Kepastian pasangan Sutjipto-Ridwan ini sudah selesai secara adminitratif di tingkat DPP PDIP. Mereka tinggal menunggu deklarasi secara resmi di hadapan publik Jatim.

Dengan demikian, untuk sementara ini sudah ada dua pasang calon yang bakal maju dalam pilgub. Mereka dalah Soekarwo-Saifullah Yusuf (Partai Demokrat-PAN), dan Sutjipto-Ridwan (PDIP). Publik tinggal menunggu kepastian pasangan cagub PKB Achmady, dan cagub Partai Golkar (PG) Soenarjo. Banyak spekulasi berkembang seputar siapa figur cawagub yang bakal mendampingi Achmady maupun Soenarjo. Kubu PKB belum memberikan sinyal siapa cawagubnya. PG meneguhkan kesediaan Ali Maschan Moesa yang masih menunggu proses internal di NU.

PPP merupakan salah satu parpol yang belum menyatakan sikap politiknya secara terbuka. Rapimwil PPP Jatim di Hotel Singgasana Surabaya 1-2 Maret 2008, muncul tiga opsi pilihan politik. Tiga opsi itu yang akan dikonsultasikan kepada DPP PPP di Jakarta. Putusan terakhir di tingkat DPP itu merupakan mekanisme internal terkait masalah calon dalam pilkada. Dan semua parpol juga melakukan mekanisme internal semacam itu.

Seperti diprediksi sebelumnya, cagub Soenarjo masuk dalam salah satu opsi hasil rapimwil PPP Jatim. Daya tarik cagub Soenarjo bagi PPP karena parpol berlambang ka’bah ini punya keyakinan bahwa figur yang bakal mendampingi Soenarjo adalah cawagub Ali Maschan Moesa. Tentunya figur Ali Maschan yang ketua PWNU Jatim dua periode ini sangat strategis bagi PPP yang ingin bangkit kembali. Tidak ada cara lain bagi PPP untuk bangkit kecuali harus merajut kembali ikatan batinnya dewan warga NU.

Untuk keperluan internal PPP Jatim, tepat sekali bila mendukung pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Keuntungan politik seperti itu pasti menjadi pertimbangan utama DPP PPP dalam memutuskan rekomendasi dari beberapa opsi yang dihasilkan rapimwil PPP Jatim. Apalagi secara historis, pada masa mudanya dulu, Ali Maschan pernah jadi jurkam dan caleg PPP di Sidoarjo.

Maka, andaikata PPP secara resmi mendukung pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa, ada beberapa catatan politik yang dapat saya kemukakan. Pertama, keuntungan politis bagi PG. Dalam konteks pilgub ini, kondisi riil PG Jatim, telah memiliki strategi yang mantap untuk pemenangan pilgub. PG Jatim sudah memenuhi syarat untuk mengusung pasangan calon sesuai dengan UU Nomor 32 Tahun 2004. Sebab, PG memiliki 15 kursi di DPRD Jatim.

Kedua, situasi politik di luar PG, khususnya perpecahan koalisi PPP-PAN, menyebabkan PPP berminat menjalin koalisi dengan parpol lain, terutama dengan PG. Teman koalisi baru bagi PPP lebih diutamakan yang memiliki keunggulan untuk membantu mendongkrak kembali suara PPP pada pemilu 2009. Maka wajar kalau PPP tidak melirik kepada pasangan Sutjipto-Ridwan maupun Soekarwo-Saifullah Yusuf. Sebab parpol maupun koalisi parpol pengusung kedua pasangan ini bukan jenis konstituen yang menjadi karakterisitik PPP. Artinya, massa PDIP, PD, dan PAN tidak mungkin dipengaruhi agar memilih PPP pada pemilu 2009 nanti.

Ketiga, dalam rencana koalisi ini, PPP punya “target lain” apabila pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa menang pilgub. Figur sekelas Ali Maschan Moesa sangat tepat untuk mewujudkan keinginan PPP. Yakni merajut kembali konstituen warga NU dalam menghadapi Pemilu 2009. Konstituen warga NU sangat dibutuhkan PPP terbukti karena suara PPP merosot dalam dua kali pemilu. Penyebab utamanya adalah PPP ditinggalkan “pemilih tradisional” dan “pelanggan lama” dengan basisnya warga NU. Hal ini bisa dilihat statistik hasil pemilu legislatif PPP dalam perolehan kursi di DPRD Jatim. Pada pemilu 1997 dapat 27 kursi, pemilu 1999 dapat 5 kursi, dan pemilu 2004 dapat 8 kursi.

Dari sisi yang lain, andaikata PPP mendukung pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Mesin politik pilgub pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa dapat tambah kekuatan baru. Bergabungnya PPP ke PG diharapkan dapat menyedot konstituen PPP (mayoritas warga NU) untuk menjadi konstituen pilgub bagi Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Bertambahnya dukungan ini berasal dari warga NU dari “segmen khusus” yakni konstituen PPP. Mereka adalah dari ulama, tokoh perempuan, generasi muda, dan pemilu baru yang simpatik kepada PPP.

Bergabungnya PPP ke pasangan Soenarjo-Ali Maschan bisa diharapkan menjadi “satelit khusus” untuk bersaing dengan cagub lain. Terutama cagub Ahmady (PKB, berbasis NU) dan Saifullah Yusuf (cagub PAN, tapi berbasis kader NU). Pengetrapan wilayah garapan “statelit khusus” ini sangat cocok untuk operasi di kawasan “tapal kuda” yang selama ini menjadi basis dukungan PPP.

Oleh karena itu perlu langkah-langkah persiapan bagi PPP sambil menunggu keputusan resmi dari DPP PPP soal rekomendasi dukungan pilgub. Persiapan itu berupa strategi pemenangan pilgub, terutama pada bidang-bidang yang paling strategis. Pertama, konsolidasi politik yang dipakai PPP untuk mempertahankan dan mengarahkan konstituen PPP pada Pemilu 2004 untuk digiring menjadi konstituen pilgub Soenarjo-Ali Maschan Moesa.

Kedua, konsolidasi politik yang dipakai PPP untuk menetralisir “perlawanan” para ulama PPP yang menentang sikap DPW PPP Jatim (yang menolak mengusung Saifullah Yusuf). Para ulama PPP yang dimaksudkan ini terutama dari kawasan tapal kuda (basis dukungan PPP) seperti KH Alawi Muhammad, Karongan, Sampang, Madura, dan para ulama lainnya.

Ketiga, langkah politik yang dipakai PPP untuk menjaring pemilih baru (pemilih muda) terutama dari lingkungan keluarganya para fungsionaris dan konstituen PPP. Termasuk dalam langkah politik ini adalah menjaring generasi muda NU agar menjadi konstituen Soenarjo-Ali Maschan Moesa.

Keempat, menyiapkan tokoh-tokoh nasional yang memiliki “magnit politik” tinggi di kalangan NU agar bersedia menjadi jurkam pilgub Soenarjo-Ali Maschan Moesa. Tokoh-tokoh sekaliber ini antara lain: ketua PP Muslimat Khofifah Indarparawansa, ketua umum PB PMII, ketua umum PP Fatayat NU, ketua umum PP IPNU, ketua umum PP IPPNU, dan fungsionaris PP Ansor selain Saifullah Yusuf.

Kelima, PPP menyiapkan perangkatnya dalam bidang kesiapan “mesin politik” mulai tingkat DPW, DPC, DPAC, hingga jajaran kepengurusan di tingkat desa/kelurahan. Kesiapan ini ditunjukkan lengkap dengan program kerjanya. Hal ini penting untuk mengetahui kaulitas “mesin politik” PPP yang langkah-langkah politiknya akan disinkronkan dengan “mesin politik” yang sudah dimiliki PG. (Oleh Gatot Sudjito)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: