Tim Sukses Cagub Masuk Pagar Sekolah

Artikel

Oleh Gatot Sudjito

SUDAH lazim kalau rekrutmen tim sukses cagub Jatim diambil dari elemen masyarakat yang berasal dari kalangan strategis. Salah satu unsur strategis itu termasuk dari kalangan guru. Profesi ini begitu memiliki posisi terhormat di masyarakat untuk jadi panutan bagi lingkungan sekitarnya. Tentu, yang dimaksud lingkungan sekitarnya adalah kawasan tempat tinggal guru.

Dalam konteks tradisi lama, figur guru khususnya di lingkungan masyarakat tradisional memiliki peran strategis sebagai pembimbing masyarakat di sekitarnya. Figur guru memiliki peran sebagai pusat pengetahuan dan informasi, sekaligus menjadi pelaku transfer ilmu dan tata nilai.

Kondisi seperti itu sudah mengalami pergeseran setelah masyarakat mengalami peningkatan dalam banyak hal. Terutama karena makin meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat, lengkapnya sarana pembelajaran, dan kemajuan teknologi. Menjamurnya media massa cetak dan elektronik, membuat masyarakat makin cepat memperoleh informasi mengenai perkembangan yang terjadi di sekitarnya.

Faktor itu menyebabkan peranan guru di masyarakat mengalami perubahan yang cukup signifikan. Karena masyarakat sudah memiliki “guru lain” berupa tayangan televisi, radio, internet, dan media massa cetak. Sehingga, profesi guru di masyarakat sekitarnya memiliki kedudukan yang sederajat dengan profesi lainnya. Artinya, figur guru tetap dominan sebagai figur panutan di lingkungan sekolah sebagai tempat kerjanya. Setelah lepas tugas di sekolah, dan guru berada di lingkungan tempat tinggalnya, mereka menjadi masyarakat biasa.

Memang, tidak sedikit figur guru yang menjadi pemimpin masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Hal itu lebih dikarenakan tingginya interaksi guru tersebut sebagai anggota masyarakat. Intensitas ketokohannya diperoleh akibat tingginya peran aktifitas di lingkungan tempat tinggalnya. Predikat profesi guru yang disandangnya, hanya menjadi pelengkap aktifitas kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya. Guru yang tidak memiliki aktifitas kemasyarakatan seperti itu, secara otomatis tidak akan menjadi tokoh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Bahasan mengenai peran ganda guru di luar tugas utamanya di sekolah itu sengaja saya ulas menjelang pelaksanaan pemilihan gubernur (pilgub) Jatim 2008. Setiap pasangan cagub-cawagub punya hak yang sama untuk merekrut tim sukses dari elemen masyarakat dari mana pun. Termasuk boleh juga merekrut tim sukses dari kalangan guru. Hal itu logis kalau dipandang dari sudut figur guru sebagai panutan bagi masyarakat sekitarnya. Asalkan dipahami bahwa perkembangan masyarakat sekarang ini menempatkan guru sama derajat ketokohannya dengan profesi lain.

Sedangkan peran guru dalam lingkungan sekolah, sudah memiliki tata nilai yang menyangkut proses belajar mengajar. Mereka memiliki kode etik profesi, tugas dan fungsinya sebagai guru di sekolah. Secara umum, tugasnya sebagai pendidik di sekolah, guru dituntut menjadi figur teladan dalam perilaku. Dalam konteks keilmuan, mereka sudah memiliki standar baku sebagai pengajar mata pelajaran tertentu sesuai dengan kelayakan jenjang pendidikannya.

Jika guru di sekolah menunjukkan perilaku yang tidak mencerminkan norma-norma pendidikan, tentu dia akan dianggap telah melakukan penyelewengan profesi. Dalam konteks ini, banyak kalangan mengecam ketika tim sukses cagub Soekarwo yang berasal dari kalangan guru melakukan kampanye terselubung di SMA dan SMK baru-baru ini. Mereka mengedarkan buku kumpulan soal-soal tes masuk perguruan tinggi dengan sampul gambar Pak De Karwo. Masuknya tim sukses cagub Soekarwo ke dalam pagar sekolah tersebut telah mencederai sekolah sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya steril dari kegiatan politik praktis.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tim sukses cagub Soekarwo hanya berpikir untuk keuntungan politis tanpa mempertimbangkan rusaknya tata nilai edukatif bagi siswa di lingkungan sekolah. Disadari atau tidak, guru-guru yang ditugasi berkampanye lewat pengedaran buku kepada siswanya di sekolah, telah menodai tugasnya sebagai pendidik. Tindakan semacam itu dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan. Semua guru yang paham akan tugas dan fungsinya, pasti menolak tim sukses cagub masuk pagar sekolah.

Menurut saya, sangat wajar bila banyak elemen masyarakat melakukan kecaman dan perlawanan terhadap tindakan tim sukses cagub Soekarwo tersebut. Dan model perlawanan yang ditunjukkan dapat saya bagi dalam beberapa kategori. Pertama, kritikan yang dilancarkan media massa. Sesuai dengan jati dirinya, media massa tidak akan lepas dari fungsinya untuk meluruskan barang yang bengkok. Dalam kasus ini, media massa tidak rela bila siswa di sekolah diracuni dengan tindakan yang berbau politik praktis tim sukses cagub. Karena banyak banyak cara berkampanye model lainnya yang lebih beradab.

Kedua, reaksi balik dari elemen guru di sekolah yang merasa “kebobolan” masuknya tim sukses cagub Soekarwo ke dalam pagar sekolah mereka. Realitas ini menunjukkan bahwa mayoritas guru sangat memahami bahwa lingkungan sekolah harus streril dari kegiatan politik praktis, termasuk kampanye cagub. Kita harus bangga dengan adanya kenyataan mayoritas guru di sekolah memiliki disiplin tinggi dalam menegakkan aspek moral pendidikan. Saya yakin tindakan cepat dari para guru yang memblokir gerakan tim sukses cagub Karwo di lingkungan sekolahnya itu benar-benar mendapat dukungan para orang tua siswa. Bagaimana pun para orang tua merasa keberatan kalau anaknya dipolitisir oleh gurunya di sekolah.

Ketiga, reaksi dari kalangan DPRD Jatim. Masyarakat merasa lega ketika Komisi E (kesra) DPRD Jatim cepat mengambil langkah dengan memanggil kepala Dinas Pendidikan Jatim Rasiyo terkait beredarnya ribuan buku bergambar Pak De Karwo di beberapa SMA dan SMK. Sebagai pejabat yang bertanggungjawab di bidang pendidikan, tentu sangat tepat bila Rasiyo dimintai keterangan oleh DPRD Jatim. Meski pun Rasiyo mengaku tidak tahu dengan peredaran buku-buku tersebut, namun teman-teman Komisi E tidak mudah percaya dengan pernyataan kepala Dinas Pendidikan tersebut.

Mengapa teman-teman Komisi E sangat getol meminta pertanggungjawaban Rasiyo atas peredaran buku-buku bersampul gambar Pak De Karwo di sekolah-sekolah? Komisi E memang tugasnya melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan Pemprov Jatim dalam bidang pendidikan. Sudah menjadi kewajiban Komisi E untuk mempersoalkan beredarnya buku-buku tersebut dalam lingkungan sekolah-sekolah di Jatim. Apalagi teman-teman dari Komisi E khususnya yang berasal dari PKB, PDIP, Partai Golkar, PKS punya temuan yang mengindikasikan bahwa Rasiyo mengetahui peredaran buku-buku tersebut, tapi Rasiyo tidak pernah melarangnya.

Reaksi dari banyak kalangan (media massa, komponen sekolah, dan DPRD Jatim) itu merupakan kekuatan besar yang bisa menyetop praktik-praktik politik yang tidak terpuji. Kekuatan tersebut menjadi momentum bahwa masyarakat menginginkan sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan harus steril dari kegiatan politik praktis. Realitas ini perlu dicamkan oleh tim sukses cagub mana pun agar tidak melakukan kesalahan serupa. Pilgub 2008 harus dijaga agar tidak merusak sendi-sendi pendidikan di Jatim.

Penulis, adalah lulusan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jember


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: