Sukses Pilgub 2008 Menuju Sukses Pemilu 2009

Artikel

Oleh Gatot Sudjito

PEMIKIRAN strategis yang ada pada diri kader Partai Golkar (PG) Jatim adalah ikut serta dalam Pilgub merupakan amanat UU Nomor 32 Tahun 2004 dan PP Nomor 6 Tahun 2005. Bagi kader, upaya memenangkan Pilgub merupakan tugas organisatoris bagi PG demi menjaga nama besar partai yang secara nasional tampil sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2004.

Karena motivasi pemenangan Pilgub bagi PG sangat menentukan masa depan PG di Jatim dalam menyongsong Pemilu 2009. Maka, bagi kader PG tidak ada kata lain kecuali harus berjuang untuk memenangkan Pilgub, sebab medan politiknya sungguh berat karena hasil Pemilu Legislatif 2004 di Jatim ternyata PG hanya menempati urutan ke 3 (sama dengan hasil Pemilu 1999).

Kondisi obyektif PG Jatim adalah hasil Pemilu 2004 memperoleh 15 kursi di DPRD Jatim dan 13 kursi di DPR RI. Saat ini kader PG ada yang duduk sebagai Bupati/Walikota atau Wakil Bupati/Wakil Walikota jumlahnya hanya 9 daerah. Jumlah itu diperoleh dari pilkada langsung yang berhasil menempatkan kader PG jadi Bupati Tuban, Bupati Ngawi, Wakil Bupati Malang, Wakil Bupati Pacitan, Wakil Bupati Pamekasan. Sedangkan pada pilkada model lama (dipilih DPRD), kader PG berhasil jadi Wakil Bupati Magetan, Wakil Walikota Malang, Wakil Walikota Mojokerto, Wakil Walikota Probolinggo.

Kondisi obyektif lainnya adalah konstituen Golkar di jaman orde baru, pada pasca reformasi banyak yang pindah menjadi konstituen PKB dan PDIP. Pondok pesantren yang pada jaman orde baru menjadi “binaan” dan “mitra politik” Golkar, pada pasca reformasi banyak yang lepas dari jangkaun PG. Pertumbuhan generasi muda makin terdidik yang pada jaman jaman orde baru mereka cenderung golput, bahkan “anti Golkar”. Generasi muda yang tumbuh pada pasca reformasi belum pernah disentuh PG dalam pembinaan calon konstituen atau “pelanggan” baru.

Modal politik yang dimiliki PG Jatim dalam Pilgub 2008 tentunya popularitas Cagub Soenarjo dengan label birokrat, pemegang jabatan di beberapa organisasi, ketua Golkar, dan dalang kondang. Semua keunggulan itu sangat cocok model kepemimpinan Jawa seperti yang didambakan masyarakat di wilayah Mataraman. Dan ketokohan Cagub Ali Maschan Moesa (AMM) di jajaran NU lebih mantap di wilayah Mataraman dan Tapal Kuda.

Jajaran PG di kawasan Tapal Kuda punya motivasi tersendiri dalam “memasarkan” pasangan Soenarjo – Ali Maschan Moesa (SALAM). Hal itu sinkron dengan evaluasi bahwa hasil Pemilu 2004 secara umum kekuatan PG di kawasan Tapal Kuda tidak sebagus kekuatan PG di kawasan Mataraman.

Di sisi lain, ada tantangan politis yang harus dihadapi pasangan SALAM. Realitasnya, konstituen NU menjadi rebutan pasangan cagub lainnya yang juga berasal dari kalangan nahdliyin, terutama Achmady (PKB), Saifullah Yusuf (PD-PAN), Khofifah (koalisi PPP) / Djoko Subroto (koalisi parpol non parlemen). Dan sikap para kyai di jajaran Syuriah PWNU Jatim yang tidak kondusif terhadap AMM dan para pendukungnya dari jajaran NU struktural.

Saya prediksi Pilgub 2008 akan diikuti 5 pasang cagub. Sehingga tim sukses pasangan cagub mana pun pasti meyakini bahwa untuk menjadi pemenang paling tidak harus memenuhi target perolehan suara sebesar (30 – 40) persen. Secara umum target sebesar itu bisa lolos menjadi pemenang mengingat perserta Pilgub 2008 sebanyak 5 pasang.

Bagi tim sukses SALAM, diperlukan kerja ekstra keras bagi tim sukses untuk mencapai target persen tersebut. Hal itu dapat dicapai dengan pertambahan suara yang diharapkan berasal dari komunitas pendukung Cagub Soenarjo di luar PG, dan komunitas pendukung Cawagub AMM baik yang di lingkungan NU maupun di luar NU.

Tim sukses harus bisa mengefektifkan jaringan PG dan elemen NU setempat untuk memperkuat mesin politik pilgub mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, hingga tingkat TPS. Juga mengefektifkan jaringan PG dan Parpol Pendukung SALAM setempat untuk memperkuat mesin politik pilgub mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, hingga tingkat TPS.

Pencitraan figur SALAM harus dilakukan secara optimal di media massa. Saat ini pasangan cagub-cawagub yang paling gencar melakukan kampanye pencitraan di kepan publik adalah KARSA. Sedangkan pasangan SALAM kurang gregetnya di media massa. Memang beberapa waktu terakhir ini figur AMM selalu menjadi pembicaraan di media massa, tapi temanya justru konfliknya dengan jajaran Syuriah PWNU Jatim. Publikasi konflik AMM di NU ini sangat tidak menguntungkan bagi upaya membangun pencitraan figur pasangan SALAM.

Bakal terjadi pertaruhan gengsi para pasangan cagub untuk bersaing memperoleh suara terbanyak di beberapa kabupaten dan kota yang menjadi asal usul cagub – cawagub. Kawasan itu disebut sebagai kampung halaman para calon karena mereka dilahirkan di daerah tersebut.

Para cagub-cawagub pasti punya kans besar untuk memenangkan perolehan suara di daerah kelahirannya (kampung halaman). Faktor ini menjadi gengsi tersendiri bagi cagub-cawagub. Misalnya KARSA di Madiun (Soekarwo) dan di Pasuruan (Saifullah Yusuf). SR di Trenggalek (Sutjipto) dan Ridwan Hisjam di Surabaya/Sumenep). Achmady di Mojokerto. Khofifah di Surabaya (terutama di kalangan alumni TP Chotidjah, Wonokromo). Djoko Subroto di Pamekasan. Tentunya faktor yang sama juga dimiliki SALAM di Blitar (Soenarjo) dan Tulungagung (AMM).

Secara umum, semua parpol yang mengusung calon dalam pilgub pasti punya landasan strategis bahwa sukses Pilgub 2008 akan berpengaruh secara signifikan dengan sukses Pemilu 2009. Hanya caranya saja yang berbeda-beda dalam menempuh target sukses tersebut. Ada parpol yang mengusung cagub dari luar partainya. Dan ada parpol yang lebih mantap dengan cara mengusung kadernya sendiri sebagai cagub. Alur strategi yang lebih baik mengusung kader sendiri ini yang dipakai oleh Partai Golkar, dan PDIP.


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: