Perempuan Politik Partai Golkar

Artikel

Oleh Gatot Sudjito

SABTU 26 April 2008 telah dilakukan launching Perempuan Politik Partai Golkar (PUTIKKAR) Jatim. Kehadiran kaukus yang dipelopori para politisi perempuan Partai Golkar itu merupakan wujud dari dinamika politik di internal parpol berlambang pohon beringin itu.

Peran politik perempuan sudah terbukti sangat strategis selama beberapa kali pemilu di negeri ini. Jumlah pemilih perempuan menempati rangking mayoritas dalam setiap kali pemilu digelar. Demikian pula yang terjadi pada setiap pilkada di tingkat propinsi, kabupaten/kota.

Kuota perempuan dalam pencalonan anggota legislatif di tingkat pusat maupun daerah menjadi faktor yang sangat penting. Apalagi hasil revisi UU Pemilu sudah secara tegas mengatur persyaratan kuota kursi perempuan di jajaran lembaga legislatif.

Ketentuan terbaru tersebut mengatur persyaratan minimal 30 persen caleg perempuan dalam penempatan di daftar caleg. Peraturan ini harus dimaknai secara cerdik bahwa penghargaan gender sungguh rasional karena realitas politiknya pada setiap pemilu ternyata jumlah pemilih perempuan tergolong mayoritas.

Partai Golkar sudah bertekad untuk mematuhi setiap peraturan perundang-undangan di bidang politik. Menurut pendapat saya, persoalan kuota 30 persen bagi caleg perempuan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam strategi pemenangan pemilu. Maka, caleg 2009 harus direkrut dari kalangan aktifis perempuan yang memenuhi kualifikasi sebagai kader Golkar dengan jaminan mampu mendongkrak perolehan suara Partai Golkar minimal 30 persen dari perolehan suara pada pemilu 2004.

Bagaimana pun PUTIKKAR diwajibkan untuk menghayati bahwa tantangan yang dihadapi Partai Golkar dalam Pemilu 2009 nanti tidak ringan. Sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2004, tentu Partai Golkar memiliki beban dan tanggung jawab untuk mempertahankan rangking kemenangannya. Finalisasi dari tantangan itu harus dijawab dengan bukti kongkret berupa kemenangan pada Pemilu 2009.

PUTIKKAR juga perlu mencermati perkembangan masyarakat sebagai calon pemilih Partai Golkar ke depan. Sebab, ada kecenderungan perilaku pemilih semakin rasional dalam mendukung parpol pada pemilu akan datang. Pilihan di tingkat daerah kadang-kadang tidak selalu sama dengan pilihan di tingkat nasional. Salah satu faktor perbedaan pilihan itu disebabkan rakyat semakin melek politik. Mereka memiliki daya kritis makin tinggi dalam menilai kinerja pemerintahan di tingkat pusat dan kinerja pemerintahan daerah di tingkat lokal.

Peran anggota lembaga legislatif daerah sangat berkaitan erat dengan tingkat kepuasan rakyat yang diwakilinya. Sejauh ini belum ada studi komprehensif tentang tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Fraksi PG atau anggota DPRD (propinsi, kabupaten/kota). Sehingga, belum ada tolok ukur yang baku untuk menjawab pertanyaan apakah legislator Golkar sudah memuaskan rakyat sehingga berdampak positip bagi Partai Golkar pada Pemilu 2009 nanti.

Tentunya, hasil evaluasi kualitas kinerja anggota legislatif daerah akan sangat menentukan kebijakan rekrutmen caleg dan merupakan standar untuk menyusun strategi pemenangan Pemilu 2009. Dalam konteks ini PUTIKKAR diminta obyektif dalam menilai kinerja legislator perempuan yang dimiliki Partai Golkar hasil Pemilu 2004.

Tidak berlebihan bila saya katakan bahwa kehadiran PUTIKKAR merupakan tuntutan yang menjadi kebutuhan organisasi bagi partai politik sebesar Partai Golkar. Dengan kata lain, PUTIKKAR sebagai mesin politik baru bagi Partai Golkar benar-benar diharapkan dapat menjaring “pelanggan baru” untuk menambah jumlah konstituen partai. Kehadiran PUTIKKAR dapat ditargetkan menambah perolehan suara Partai Golkar sebanyak 30 persen dari perolehan suara Pemilu 2004.

Keberadaan dan peran PUTIKKAR tidak boleh hanya seperti “ganti baju baru bagi orang lama” atau “orang lama punya tambahan baju baru”. Tapi benar-benar terwujud adanya “baju baru untuk menambah jumlah konstituen baru” bagi Partai Golkar.

Aktifis PUTIKKAR wajib memahami doktrin yang ingin dicapai Partai Golkar Jatim. Yakni, sukses Pilgub 2008 menuju sukses Pemilu 2009. Target yang ingin dicapai dalam Pilgub 2008 pasangan Soenarjo-Ali Maschan Moesa (SALAM) memperoleh suara 30-40 persen karena jumlah peserta pilkada sebanyak 5 pasangan.

Arena Pilgub 2008 dapat menjadi ajang “uji coba” bagi PUTIKKAR untuk menunjukkan kiprahnya sebagai mesin politik baru. Hal itu berkaitan erat dengan jumlah pemilih di Pilgub Jatim yang mayoritas perempuan.

Menurut saya, seluruh program kerja PUTIKKAR harus difokuskan pada upaya suksesnya pemenangan Pilgub 2008 menuju sukses Pemilu 2009. Seluruh jajaran Partai Golkar mendukung kehadiran dan sekaligus menunggu hasil perjuangan PUTIKKAR demi kebesaran Partai Golkar.


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: