Sama-sama Gagal Dapat Rekom Golkar Tidak Mendukung KarSa dan Kaji

SURYA: Pupus sudah harapan dua kandidat calon gubernur calon wakil gubernur Jatim untuk mendapatkan rekomendasi dukungan Partai Golkar. Dewan Perwakilan Dearah (DPD) Partai Golkar Jatim akhirnya secara resmi memilih bersikap pasif dalam putaran kedua yang digelar 4 November mendatang.

Partai Golkar tidak menyerahkan dukungan ke pasangan Soekarwo-Saifullah (KarSa) maupun Khofifah-Mujiono (Ka-Ji), melainkan memberikan kewenangan itu pada masing-masing DPD II Golkar kota/kabupaten.

Keputusan itu diambil dalam rapat tertutup yang berlangsung alot antara pengurus Golkar Jatim dengan 38 DPD kota/kabupaten usai halal bi halal dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla, Selasa (14/10). Hasil itu kemudian ditindak lanjuti dengan keluarnya petunjuk teknis nomor I/DPD/Oktober/2008 tentang pemberian kewenangan masing-masing DPD kota/kabupaten untuk menetapkan dukungan sendiri pada putaran kedua.

Sumber Surya di Golkar menuturkan, pembicaraan untuk menentukan keputusan final itu berlangsung alot sejak pukul 14.30 WIB hingga menjelang adzan magrib.

Para ketua DPD yang cenderung merapat ke KarSa menghendaki lahirnya putusan mendukung satu calon. “Mereka memang tidak serta merta minta putusan ke KarSa. Tapi kalau saja DPD I setuju menetapkan satu dukungan, upaya mengarahkan pada KarSa langsung gol,” tutur pengurus DPD II yang tidak mau disebut namanya itu.

Sebaliknya DPD II yang cenderung mendukung Ka-Ji dalam pertemuan itu memilih diam. Jumlah mereka hanya beberapa orang, kalah jauh dibandingkan DPD pendukung KarSa yang mencapai hingga 22.

Keputusan menyerahkan sikap pada DPD II itu lantaran rivalitas Ketua DPD Golkar Jatim Soenarjo dan Soekarwo, baik saat sama-sama menjabat di pemprov maupun saat putaran pertama. “Ketua tadi ewuh pakewuh. Mau memberikan suara ke Ka-Ji takut pada DPD II yang mayoritas ke KarSa. Tapi kalau ikuti DPD II, bertentangan dengan hatinya. Padahal dalam politik, hubungan kan bisa berubah-ubah, tidak panas-panasan terus,” katanya.

Wakil Sekretaris Golkar Jatim, Gatot Sudjito mengelak anggapan ewuh pakewuh itu. Menurut Gatot keputusan menyerahkan pilihan pada DPD II karena kepentingan 2009. “Pertimbangan kami, DPD II lebih tahu kecenderungan kader di masing-masing daerahnya,” jelas Gatot yang kemarin memimpin rapat.

Ia menambahkan, saat ini Golkar fokus pada pemilu legislatif dan pilpres. Keputusan memberi wewenang menentukan dukungan itu sekaligus untuk mengukur kinerja mesin partai di daerah.
Sementara itu, dalam pertemuan sebelumnya, Jusuf Kalla meminta semua caleg optimis dengan sistem suara terbanyak.

Cara itu yang dipilih partai untuk memperbaiki militansi kader yang mulai menurun. ”Siapa pun calon yang bekerja keras untuk meraih suara terbanyak dalam pemilu, bisa jadi. Ini satu-satunya cara untuk mendorong semua kader agar bekerja. Ini bukan tidak menghargai pengurus,” ujarnya.

Dengan sistem suara terbanyak sekalipun pengurus tetap dihargai. Karena, faktor popularitas tetap dibutuhkan untuk dipilih. “Kader yang bukan pengurus harus kerja lebih keras lagi supaya bisa dikenal dan dipilih,” tuturnya.

(Surya, 15 Oktober 2008)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: