Golkar Jatim Cari Otak Perusuh Munas

Liputan Pers

Bali, Surya – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jatim terus mencari orang yang menggerakkan massa asal Surabaya yang membuat kisruh pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) IX Partai Golkar di Nusa Dua Bali.

Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim Gatot Sudjito menuturkan, setelah mengetahui massa 11 bus yang sempat menyambangi lokasi Munas Golkar di Nusa Dua Bali berasal dari Surabaya, pengurus Golkar Jatim yang ada di lokasi acara langsung membahas serius kasus itu.

“Saat ini kami masih mencari siapa pelaku yang membiayai massa asal Surabaya tersebut datang ke Bali,” ujarnya kepada Surya. Saat dihubungi, Gatot mengaku sedang berada di arena acara.

Meski masih mencari dalang pelakunya, Gatot yang juga anggota DPR RI yakin, massa yang diangkut 19 bus itu bukan kader Golkar. Dirinya yakin mereka adalah massa bayaran yang sengaja dikirim untuk membuat kisruh penyelenggaraan munas. Apalagi selain dari Surabaya dan Sidoarjo, informasinya ada juga massa yang berasal dari daerah lain di Jatim, seperti Nganjuk. “Tapi dengan kesigapan Pamdal, niat mereka dapat digagalkan dengan cepat oleh pecalang dan petugas keamanan,” jelasnya.

Sekretaris DPD Partai Golkar Jatim Gesang Budiharso juga menyatakan pihaknya belum tahu sikap otak yang menggerakkan massa asal Surabaya itu.

“Saat kejadian itu, saya sedang berada didalam ruangan acara. Lokasi tempat acara yang ada didalam hotel, dengan pintu masuk cukup jauh,” katanya.

Namun, Gesang memastikan keberadaan massa itu tidak akan mempengaruhi solidaritas Golkar Jatim dan 38 DPD Kabupaten/Kota untuk mendukung Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar periode 2014-2019. “Sampai saat ini, Jatim masih solid dan ungkul mendukung Bang Ical,” tegasnya.

Sedangkan Ketua DPD Partai Golkar Sidoarjo Warih Andono, mengaku tidak kader Golkar Sidoarjo yang datang ke Munas Golkar di Bali. Bahkan Sidoarjo tidak memberangkatkan kader dalam acara munas. “Sesuai undangan yang datang saya (Warih) bersama sekretaris. Kalau ada orang mengaku kader Golkar tanya saja KTA. Apakah mereka punya atau tidak. Yang jelas tidak ada nama kader Golkar Mukhlis Yulianto,” tutur Warih saat dihubungi Surya.

Sementara korban lumpur menanggapi acuh tak acuh Munas Golkar yang salah satunya mengusung Ical sebagai calon ketua. Mereka juga tidak tahu massa dari Sidoarjo yang berangkat ke Bali. “saya tidak tahu menahu biar ARB ikut Munas atau tidak gak penting. Yang penting pemerintah suruh bayar ganti rugi beres,” terang Subakri, korban lumpur dari Reno Kenongo.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, massa yang mendatangi tempat Munas Golkar berisi warga Surabaya dan Sidoarjo.

Massa ini berkumpul di Lapangan Lagun, Nusa Dua Minggu lalu dan sempat membuat suasana munas memanas. Namun akhirnya mereka dipulangkan ke Surabaya pada Senin (1/12) dini hari.

Kapolsek kawasan Laut Gilimanuk, Kompol Nyoman Wirya Sucipta, mengatakan ratusan massa penolak Munas Golkar itu diangkut dari Denpasar dengan menggunakan bus pariwisata dan baru tiba di pelabuhan Gilimanuk pada pukul 02.15 WITA.

“Mereka itu dipulangkan dari Nusa Dua karena diduga akan menggagalkan Munas Golkar,” ujar Wirya.

Bus yang ditumpangi oleh ratusan massa itu diseberangkan melalui pelabuhan Ketapang dengan diangkut tiga kapal. Lima bus dengan nopol H 1506 CG, AB 2813 BA, L 7013 LS, W 7538 UY, dan D 7951 AF menyeberang dengan menaiki kapal Edha. Tiga bus dengan Nopol E 7907 UN, H 7285 UA, DK 9037 B menaiki kapal Marina Pratama. Sedangkan tiga bus lainnya bernopol; N 7467 UA, K 1572 AB dan S 7514 UJ menyeberang menggunakan kapal Cemerlang.

“Mereka bukan ditahan dipelabuhan. Mereka hanya dipulangkan dari Munas Golkar yang berlangsung di Nusa Dua kemarin. Mereka dating dengan menaiki 11 bus pariwisata, proses pemulangannya juga berjalan dengan aman dan lancer,” tegas Wirya.

Mundur
Sementara itu Calon Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto, menyatakan mundur dari bursa pencalonan. Hal itu disampaikan Airlangga pada Senin, pukul 22.10 Wita, di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, “Dengan ini saya menyatakan mundur dari proses pencalonan di munas dan tidak akan bertanggungjawab atas hasil munas selanjutnya,” kata Airlangga.

Menurutnya sejak awal berlangsungnya munas terjadi berbagai pelanggaran. Antara lain adanya embargo terhadap materi tata tertib dan materi terkait jadwal. Terbukti materi rancangan tata tertib diperoleh peserta munas pada subuh sebelum rapat paripurna I digelar. Pada saat paripurna pembahasan tatib, bukannya dibahas tetapi langsung disahkan. Tidak ada ruang bagi peserta untuk memberikan masukan-masukan.

Pada saat DPD-DPD memberikan pandangan untuk mengevaluasi kinerja DPP justru dirubah untuk meniadakan proses demokrasi dalam Partai Golkar. “Saya interupsi tata tertib itu agar dibahas satu per satu tapi pimpinan sidang langsung ketuk palu,” kata Airlangga.

Ditanya bagaimana sikap selanjutnya mengenai hasil munas, Airlangga tidak berkomentar. Termasuk apakah akan merapat ke kubu Agung Laksono atau tidak, “Posisi saya tetap setia pada konstitusi partai,” kata Airlangga.

Dengan mundurnya Airlangga, berarti memuluskan langkah Abirizal Bakrie sebagai calon tunggal dalam Pemilihan Ketua Umum Golkar. (uji/mif/jas/sui/rob/tribun bali)


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: