Tokoh Pemerintahan

Liputan Pers

Dikutip dari: surabayaraya.blogspot.com, 9 Desember 2014

Banyak tokoh militer di Jatim yang sukses menjadi Walikota, Bupati atau Gubernur. Tapi banyak orang yang tahu M. Said-lah King Makernya. Siapapun orang yang ingin menjadi pemimpin sipil maupun militer di Surabaya dan Jatim perlu lebih dulu sowan dan meminta restu kepadanya.

Maklum dia memang pernah menjadi tokoh Golkar nomor 1 di Jatim dan pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Jatim. Di kalangan tokoh-tokoh Golkar di Jatim dialah sesepuh yang harus dijunjung tinggi dan dihormati.

Penampilan dan gaya bicara HM Said adalah tipikal para penguasa orde baru. Ia selalu hati-hati dalam menanggapi berbagai isu kontroversial yang mencuat di media massa. Ia cenderung menghindari konflik dengan memilih tak berkomentar.
Sikapnya cenderung paternalistik yang tercermin dari tumbuh suburnya budaya sowan, dan minta restu di kalangan para politisi yang ada di lingkaran kekuasaannya. Sosok Mbah Progo, begitu sebutannya, selalu menjadi tempat sowan dan menimba ilmu para politisi di Surabaya dan Jatim.

Karena itulah Akbar Tanjung yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Golkar, Ketua DPR RI, ketika berkunjung ke Jatim menyempatkan sowan ke Mbah Progo. Bahkan ia menyebut HM Said sebagai guru politiknya.

Mantan Ketua DPD Golkar Surabaya dan anggota DPRD Surabaya dan Jatim, Gatot Sudjito mengakui bahwa dirinya juga termasuk murid Mbah Progo. Dia juga menunjuk sejumlah tokoh politik pusat dan daerah yang sering sowan dan menimba ilmu kepadanya. Seperti mantan Wapres, Sudharmono, SH, Sekwilprop Soenarjo, mantan Gubernur Jatim, Basofi Sudirman, Ketua DPD Golkar Jatim, Sam Soeharto, dan Rektor Ubaya, Anton Prajitno.

Sikap tipikal pemimpin orde baru lainnya adalah ia paling senang ketika menyerang seseorang, orang itu merunduk-runduk mohon perlindungan. Dan kalau itu terjadi, hatinyapun akan langsung luluh. Seperti ketika ia mengancam akan membredel Jawa Pos karena pemberitaan yang menyoroti Golkar, amarah Mbah Progo langsug reda ketika Dahlan Iskan, sang Pemimpion Redaksi, sowan dan mengatakan kepada Mbah Progo, “Pak Said, saya ini orang kecil, Kalau Jawa Pos dibredel saya nderek (ikut) Pak Said saja.” Selanjutnya, Ia tidak hanya memaafkan Dahlan Iskan, tapi mengantarkannya menjadi anggota MPR dari Utusan Golongan.

Meski demikian HM Said juga mengaku pernah ditelikung para bawahannya. Misalnya saja dalam persoalan Kebun Binatang yang sempat kisruh dan berbuntut penahanan beberapa pengurusnya saat ia menjadi Ketua Umum. Ketika pengurus lama dibubarkan dan dibentuk presidium HM Said merasa tak dilibatkan. Tapi ia hanya diam dan pasrah dan menyerahkan persoalan KBS pada pengurus berikutnya.
Selain aktif di dunia politik, HM Said juga banyak melibatkan dirinya dalam dunia sosial dan pendidikan. Semasa hidupnya ia pernah memimpin Kebun Binatang Surabaya, pengelola Candra Wilwatikta, dan menjadi Ketua Yayasan Universitas Wijaya Kusuma. Dan bahkan ia juga memiliki bisnis rumah makan di tiga tempat di Pandaan (Dewi Sri), Tuban dan Citra Land yang dikelola istrinya. Untuk menangani rumah makan tersebut, HM Said mempekerjakan sekitar 500 karyawan.

HM Said adalah sosok pekerja keras yang tak mau hanya tinggal diam saja. Bahkan ketika ia sakit, ia meminta dipulangkan lebih cepat. Masih dalam keadaan sakit liver, ia terlihat melakukan pembicaraan telepon, membolak-balik buku dan membuat catatan-catatan. Saat itu ia tengah mempersiapkan pendirian beberapa program paska sarjana dan pembangunan tower di UWK. Hasilnya lahir tiga program paska sarjana, Akutansi, Hukum, dan Pertanian, sedangkan towernya masih belum dapat dituntaskan.

Dalam kesibukan itu pula, ia kembali jatuh sakit. Setelah dirawat di RS Darmo, karena penyakit livernya kambuh, pada tanggal 18 September tahun 2002 ia wafat dalam usia 81 tahun.


Gatot Sudjito

Online 1 Pebruari 2008

Arsip

Jumlah Kunjungan

  • 22,111 hits

%d bloggers like this: